Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

15 Pelajaran Penting yang Saya Peroleh dari 11 Tahun Ngeblog & Berbisnis Online

Mulai belajar ngeblog awal tahun 2009, tak terasa sudah satu dekade lebih saya menekuni bidang ini. Sebelas tahun mengarungi dunia blogging serta bisnis online, tentu ada pengalaman-pengalaman berharga yang bisa saya bagikan, entah baik atau buruk.

Harapan saya, pelajaran penting yang saya dapat dari pengalaman-pengalaman selama bergelut di bidang ini, bisa jadi motivasi, semangat, atau panduan bagi Anda, terutama yang baru mulai. Sharing saya disini bukan bermaksud untuk menggurui, tapi lebih kepada berbagi pengalaman yang saya harapkan Anda dapat mengambil manfaatnya.

Jika nanti ada kesan-kesan seperti sedang menggurui, tolong dimaafkan ya.. Mungkin karena saya sudah terbiasa memakai bahasa tulisan yang seperti itu, jadi tidak bisa menemukan kata-kata lain yang lebih tepat.

Meskipun sudah satu dekade ngeblog dan berbisnis online, saya sadar masih sangat banyak yang harus saya pelajari dan masih banyak kekurangan-kekurangan.

Jadi jika Anda berkenan membaca tulisan ini, mengambil manfaat dari tulisan ini, silahkan diambil yang menurut Anda baik dan buang yang menurut anda tidak baik atau Anda tidak sependapat dengannya.

pengalaman blog


Berikut ini 15 pelajaran penting yang saya peroleh dari 11 tahun ngeblog & berbisnis online, yang sekali lagi, semoga bisa bermanfaat bagi Anda.

Mentor mempercepat proses belajar, otodidak membuat kita lebih tahan banting

Sebagian besar bidang memerlukan figur seorang mentor atau guru. Mereka memudahkan dan mempercepat proses belajar seorang murid dalam mempelajari bidang-bidang tertentu.

Namun dalam dunia blogging terutama tahun 2010-an dulu, Anda mungkin akan kesusahan menemukan seorang guru atau mentor yang mau mengajari Anda A-Z nya dunia blogging, karena waktu itu blogging masih termasuk hal baru.

Selama 11 tahun berkecimpung di dunia blogging, bisnis online, internet marketing atau apapun itu istilahnya, hampir semuanya saya pelajari secara otodidak.

Awal 2009 saat masih bekerja sebagai seorang cleaning service di sebuah mall di Surabaya, saya menemukan buku-buku seputar tutorial ngeblog di blospot dan cara menghasilkan dollar dengan adsense. Dari situ, petualangan blogging saya dimulai.

Berada dalam lingkungan pekerja industri dan hidup seadanya di kos-kosan, teman kerja yg mayoritas mungkin tidak bisa mengoperasikan komputer, hampir tidak ada network yang memungkinkan saya mendapatkan mentor yang bisa mengajari ngeblog.

Untungnya, dari kecil saya adalah seorang yang gemar membaca, jadi tidak ada masalah ketika harus belajar otodidak melalui buku. Menulis yang merupakan kegiatan utama dari seorang blogger, dan iming-iming earning dollar dari adsense sudah cukup menjadi pembakar semangat saya untuk merubah nasib dari jalur ini.

Dengan bermodal cuma ijazah SMK yang sudah bukan fresh graduate, kepribadian saya yang termasuk pemalas dalam bekerja, tidak suka diperintah atasan, tambah komplit-lah alasan saya untuk menekuni blogging. Karena saya tahu, dengan profil saya di atas di dunia offline kesempatan saya untuk sukses cukup kecil.

Semua tutorial-tutorial seputar blog waktu itu saya lahap. Dari mulai membuat blog gratisan, memasang header, membuat widget, memasang tombol dropdown, bertukar backlink, blogwalking, dan lain sebagainya. Ads.id (waktu itu adsense-id), blog-blog milik kang Rohman, Sumintar, Blogguebo, Cosa Aranda, dan Bayumukti adalah beberapa diantara web yang sering saya kunjungi untuk belajar seputar blogging dan adsense.

Sampai sekarang, kebiasaan belajar otodidak ini masih terus tertanam. Cuma sekarang saya lebih condong ke blog luar karena selain materinya lebih advance, blog-blog lokal juga sudah banyak yang tidak update lagi.

Kekurangan belajar otodidak menurut saya adalah proses belajar yang lebih lama karena kita harus trial error sendiri, menempuh jalur-jalur yang salah sebelum menemukan jalur yang tepat. Dengan mentor, kita bisa menghemat waktu karena dibimbing langsung mana yang works mana yang tidak, mana yang harus dikerjakan dan mana yang cuma buang-buang waktu dan tenaga.

Namun, terlalu menggantungkan diri dari bimbingan mentor juga bisa mempunyai kekurangan tersendiri. Karena terbiasa ‘disuapi’, bisa jadi kita kurang tahan banting dan mandiri jika sudah waktunya ‘berjalan’ sendiri.

Seperti kita tahu, algoritma Google berubah setiap saat. Website deindeks, ranking anjlok, atau trafik turun adalah sesuatu yang bisa terjadi kapan saja.

Jika terbiasa belajar otodidak, Anda akan lebih gampang masuk ke problem solving mode setiap ada masalah. Entah itu dengan mencari akar permasalahan dan solusinya dengan googling, ataupun mengubek-ubek forum-forum seputar IM.

Sebaliknya, mereka yang terbiasa ‘disuapi’ biasanya cepat panik jika ada permasalahan serius. Tak jarang, website deindeks sudah bisa membuat mereka banting stir kembali ke pekerjaan offline dan meninggalkan bisnis online.

Apalagi, jika mereka masuk ke bisnis online hanya karena tertarik dengan pendapatannya. Mereka tidak mau menikmati proses, hanya berharap hasil saja. Saya beberapa kali menemui hal seperti ini.

Saya tidak bilang memiliki mentor itu jelek. Mentor atau guru sangat bagus, mereka membantu mempercepat proses belajar kita dan mempercepat kita dalam mencapai goal. Namun kita tidak boleh selalu bergantung pada bimbingan mentor.

Ada saatnya kita harus belajar mandiri, mencari tahu semuanya sendiri. Agar kita lebih terlatih untuk menyelesaikan masalah sendiri, dan lebih tahan banting.

Tugas guru/mentor adalah menunjukkan atau menggandeng Anda ke tempat tujuan, bukan menggendong.

Pengalaman saya ini semoga bisa menjadi penyemangat bagi Anda yang tidak punya mentor, masih struggling dan harus mencari tahu semuanya sendiri.

Gaya belajar tiap orang berbeda, belajarlah sesuai dengan kepribadian Anda

Saya adalah orang yang senang belajar melalui buku, melalui bacaan, dan ketika sendirian. Sebaliknya, saya punya teman yang senang belajar dengan cara berdiskusi, tukar pendapat, atau networking.

Dulu saya heran kenapa teman saya sering bingung jika membaca tutorial-tutorial seputar blogging, dan lebih senang belajar face to face. Saya, sebaliknya.

Akhirnya saya tahu bahwa tipe atau gaya belajar kami ternyata berbeda. Dan ini memang sudah ada dalam ilmu psikologi, yang dibagi dalam 7 macam gaya belajar yaitu Visual (Spatial), Aural (Auditory-Musical), Verbal (Linguistic), Physical (Kinesthetic), Logical (Mathematical), Social (Interpersonal), dan Solitary (Intrapersonal).

Gaya belajar saya sepertinya lebih cenderung ke Solitary (Intrapersonal), karena saya agak introvert dan senang belajar sendirian ditempat yang tenang, tanpa gangguan. Sedangkan teman saya di atas lebih ke Social (Interpersonal) karena sifatnya yang ekstrovert dan supel.

Dengan mengetahui gaya belajar yang berbeda ini, kini saya tak lagi harus memaksakan diri kopdar dengan teman-teman IM hanya demi memperdalam ilmu berbisnis online. Saya hanya kopdar jika memang memungkinkan dan itupun tujuannya lebih ke refreshing, networking, atau silaturahmi saja.

Jika Anda belum tahu termasuk tipe yang mana, silahkan baca artikel-artikel seputar gaya belajar di sini, agar Anda bisa lebih maksimal dalam belajar, menyesuaikan dengan kepribadian Anda.

Nasehat blogging sejuta umat: Pilih niche sesuai passion

Nasehat ini sudah sering saya dengar sejak mulai mengenal blogging. Dulu saya tidak terlalu mengindahkan nasehat ini karena pikir saya asal bisa dapat duit dan bukan niche seputar gambl*ng dan p*rn, pasti saya ambil.

Makin ke sini, saya makin sadar kalau nasehat ini banyak benarnya, meski tidak selalu berlaku untuk semua orang.

Memilih niche sesuai minat atau passion mempermudah kita mengelola blog dalam jangka panjang.

Seperti kita tahu, motivasi dan semangat merawat serta mengupdate blog bisa naik turun sepanjang waktu. Trafik dan earning biasanya jadi penyebab utamanya.

Trafik tak kunjung naik, earning tak beranjak dari satu digit, seringkali membuat kita jadi ragu untuk melanjutkan merawat blog. Ditambah lagi niche blog bukan topik yang kita kuasai atau minati. Jadi makin bertambah berat beban untuk meneruskan blog.

Sebaliknya jika niche yang kita pilih sesuai minat, kita bisa mengatasi berbagai masalah diatas dengan lebih bijak.

Trafik tak kunjung naik? Tidak masalah, kan bisa update blog dengan menulis sendiri. Karena sesuai minat, kita tidak perlu membayar content writer untuk mengisi artikel di blog.

Earning tak kunjung naik? Sabar.. Tetap update blog sambil mencari earning tambahan dari sumber yang lain (jual jasa, jadi dropshipper, dll).

Menurut saya, memilih niche sesuai passion sangat penting terutama untuk yang baru mulai belajar ngeblog atau berbisnis online.

Saat mulai, resource kita masih terbatas. Semua serba dikerjakan sendiri. Dengan memilih topik yang kita kuasai dan minati, proses pengerjaan jadi lebih mudah, santai, dan tidak bikin stress.

Sesuai passion juga bukan berarti harus 100% benar-benar passion Anda. Anda bisa lebih fleksibel dengan memilih niche yang memiliki cukup target market dan punya potensi earning yang menjanjikan, dan masih ada hubungannya dengan minat Anda.

Jangan over thinking dan menunggu motivasi datang, yang penting action tiap hari!

Ini dulu sering saya alami.

Ada peluang baru, saya over thinking dan over analyze yang ujung-ujungnya malah gak action sama sekali. Padahal 50% thinking/analyze dan 50% action lebih baik daripada 100% thinking/analyze tapi 0% action.

Pengin menulis rutin di blog, saya selalu menunda dan menunda, menunggu motivasi dalam diri yang tak kunjung datang. Saat motivasi datang, saya bisa sekali dua kali menulis di blog. Setelah itu berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bisa berbulan-bulan tidak menulis lagi. Seperti yang terjadi di blog ini.

Di blog-blog saya yang lain, saya sudah bisa mengatasi ini dengan fokus pada action tiap hari, mengikuti schedule harian yang sudah saya buat.

Kenapa di blog ini saya belum bisa?

Pertama, karena blog-blog saya yang lain saya monetize, otomatis saya semangat ’45 update tiap hari agar dapur tetap ngebul. Sedangkan blog ini hampir tidak saya monetize sama sekali, jadi jujur saja urgensi-nya beda. Di sini letak kekurangan saya, yang masih menunggu datangnya motivasi untuk mengupdate blog ini. I’m not perfect..

Kedua, blog-blog saya yang lain jauh lebih mudah diupdate kontennya, tidak memerlukan deep thinking dan tidak perlu menulis sampai ribuan kata per artikel. Beda dengan blog ini, yang dari awal selalu saya usahakan untuk bisa selalu memberi ulasan yang berbobot dan mendalam.

Namun, saya sudah menemukan cara untuk action tiap hari meski harus menulis artikel yang memerlukan deep thinking tinggi dengan ribuan kata per artikel. Saya akan mempraktekkan metode ini di Oecgdev.xyz agar bisa lebih konsisten update, dan saya akan membagikan metode ini dilain kesempatan.

Konsistensi dan ketekunan adalah kunci utama

Saya pernah mendengar ada blogger yang katanya tidak paham SEO sama sekali tapi punya trafik puluhan ribu. Ada juga pemilik olshop yang hanya mengandalkan promosi gratisan via facebook group atau instagram, tapi ordernya bisa puluhan per hari.

Apa rahasia mereka? Salah duanya menurut saya adalah konsistensi & ketekunan. Ini jarang dimiliki internet marketer, terutama mereka yang biasanya lebih rajin nongkrong di forum-forum atau beranda facebook daripada action pada target dan goal atau sasaran yang telah mereka buat.

Dalam filosofi legenda martial art Bruce Lee :

I fear not the man who has practiced 10,000 kicks once, but I fear the man who has practiced one kick 10,000 times.

Hal ini bisa diaplikasikan ke berbagai bidang, termasuk internet marketing/bisnis online. Daripada terus sibuk kesana-kesini mencari magic bullet untuk meledakkan bisnis Anda, lebih baik fokus, tekun dan konsisten menjalankan teknik yang sudah Anda terapkan dan terbukti menghasilkan, agar bisa lebih maksimal lagi.

Ratusan business opportunity tidak akan ada gunanya jika kita tidak punya konsistensi dan ketekunan untuk action tiap hari.

Fokus pada proses, bukan goal

Penyakit ini dulu sering menghinggapi saya. Bisa jadi Anda juga.

Ingin punya trafik tinggi? Yang saya lakukan tiap hari adalah cek Histats atau Google analytic.

Ingin punya earning tinggi? Yang saya lakukan tiap hari adalah cek dashboard Adsense.

Kalau dipikir-pikir, hal tersebut konyol. Trafik dan earning tidak akan naik gara-gara kita pelototin tiap hari.

Sekarang, setiap goal yang saya buat, saya fokuskan ke prosesnya.

Pengin punya trafik dan earning tinggi? Beberapa hal yang saya lakukan secara rutin adalah :

  • Riset keyword
  • Posting artikel
  • Update artikel
  • Optimasi on-page off-page
  • Optimasi iklan (hanya diawal-awal)

Untuk membantu saya fokus pada proses, saya menggunakan aplikasi Trello dan menuliskan apa saja yang harus dikerjakan disitu (Anda bisa menggunakan aplikasi lain ataupun catatan manual).

Tiap web saya buatkan board sendiri-sendiri, dan tiap board saya buatkan list sendiri-sendiri seperti To do List (apa saja yang harus dikerjakan), Update Regularly (postingan-postingan mana yang harus diupdate secara berkala), Done (daftar task yang sudah dikerjakan), dan sebagainya.

Keyakinan saya, asal rutin dan konsisten menjalankan hal-hal diatas, web-web saya berpeluang besar meraih trafik dan earning yang saya targetkan, tanpa saya harus cek analytic dan dashboard adsense tiap hari.

Utamakan Income Jangka Panjang (Long-Term)

Sesuatu yang sifatnya short-term (jangka pendek) biasanya sangat menggoda dan menggiurkan. Sebaliknya, yang sifatnya long-term (jangka panjang) biasanya membosankan, repetitive, dan tidak memotivasi.

Awal ngeblog, saya sering tergoda dengan income jangka pendek karena potensi penghasilannya memang menggiurkan. Waku itu, yang saya lakukan untuk mendapat income jangka pendek ini diantaranya adalah ; membuat blog dengan keyword-keyword yang banyak dicari namun konten tidak sesuai user intent, mengeksploitasi kelemahan sistem untuk keuntungan diri sendiri meskipun jelas-jelas melanggar TOS, atau membangun blog-blog auto secara masal namun konten tidak memberi value ke user.

Ending dari hal-hal manipulatif diatas mungkin bisa Anda tebak, blog-blog saya dideindeks, ranking turun, dan dibanned/suspend dari program-program PPC/affiliate karena ketahuan melanggar TOS.

Meskipun menjanjikan earning gede dengan kerja minimal, short-term income seperti di atas tidak bisa dijadikan pijakan yang kuat untuk kelangsungan bisnis. Jika fokus ke short-term income, Anda harus siap mengulang-ulang dari awal terus menerus.

Sebaliknya, jika fokus ke long-term income, kita diharuskan bekerja keras diawal-awal, melakukan tugas-tugas yang membosankan dan repetitive, dengan reward yang tidak bisa langsung kelihatan.

Namun begitu long-term income kita mulai menghasilkan, jalan ke depan biasanya akan lebih mudah, lebih mudah, dan lebih mudah lagi.

Kita juga tidak harus mengulang-ulang membangun blog dari awal karena blog dengan tujuan long-term biasanya dibangun dengan cinta konten yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan pengunjung. Jadi lebih tahan banting dengan berbagai update algoritma Google.

Sebagai contoh, salah satu blog English saya yang saya bangun dengan mindset long-term, sudah 4 tahun eksis dengan trafik dan earning yang stabil, dan visitor yang makin loyal (dilihat dari returning visit yang makin banyak dan user-user yang makin aktif berkomentar di blog).

Yang saya lakukan di blog tersebut sekarang hanya posting artikel baru beberapa minggu sekali dan update post-post lama jika diperlukan. Tidak sampai setengah jam sehari biasanya sudah selesai.

Don’t Spread Yourself Too Thin

Tahun 2011-an, saya pernah membuat puluhan blog dalam waktu yang bersamaan. Riset keyword, build blog, order konten semuanya saya lakukan dalam satu waktu.

Waktu itu memang jamannya web-web micro-niche, yaitu web yang dibuat untuk menargetkan keyword-keyword yang sangat spesifik. Jadi 1 web hanya diisi sekiar 5-10 postingan.

Apa yang terjadi kemudian? Hampir tidak ada satupun yang menghasilkan earning dan akhirnya semuanya terbengkalai.

Membuat blog secara masal mempunyai banyak kekurangan :

  • Modal harus banyak (beli konten, hosting, domain, dll)
  • Effort yang lebih besar (riset keyword, instal wordpress, setting theme, dll)
  • Waktu yang lebih lama

Pada akhirnya, saya spread myself too thin, melakukan banyak hal pada waktu yang bersamaan yang akhirnya malah tidak ada yang bisa terurus dengan semestinya.

Sekarang, saya merubah pendekatan ini dan hanya membuat blog baru jika blog yang lama sudah cukup menghasilkan dan sudah bisa dikelola dengan baik.

Pendekatan ini menurut saya mempunyai banyak kelebihan :

  • Modal lebih sedikit karena hanya membuat 1 blog dalam 1 waktu.
  • Effort dan waktu yang dibutuhkan lebih sedikit.
  • Bisa lebih fokus dalam mengelola blog.
  • Earning dari blog lama bisa dipakai untuk mensupport blog baru.

Begitu juga dengan sumber trafik. Menurut saya, sumber trafik bisa digolongkan menjadi 4 bagian utama :

  • SEO
  • Advertising
  • Social Media
  • Marketplace

Bagi Anda yang baru mulai, bisa mencoba keempatnya untuk mengeksplore masing-masing potensi dari keempat sumber trafik tersebut.

Tapi jika Anda sudah 5 tahun lebih bergelut di bisnis online apalagi jika sudah 10 tahun lebih seperti saya, harusnya sekarang Anda sudah bisa memilih satu jenis sumber trafik utama yang paling sesuai dan cocok dengan minat Anda.

Saya misalnya, sampai sekarang tetap setia di jalur blogging, dan SEO saya gunakan sebagaik sumber trafik utama. Saya tidak keder meskipun screenshot dari teman-teman sesama IM tentang gurihnya earning dari iklan maupun marketplace bertebaran di beranda facebook.

Selain agar tidak spread myself too thin, pilihan fokus di jalur blogging & SEO karena saya merasa memang minat saya di sini. Saya kenal blog dan bisnis online dari membaca buku, dan saya mulai belajar mencari duit di internet dari menulis di blog.

Selain waktunya gajian, rasa senang ketika trafik blog beranjak naik, kepuasan batin saat tulisan kita diapresiasi pembaca, atau rasa bangga ketika keyword kompetitif yang kita bidik berhasil naik ke halaman satu SERP, adalah hal-hal yang paling saya nikmati dalam perjalanan blogging saya.

Saya tahu pendapat ini tidak berlaku bagi semua orang. Ada yang bisa menjalankan dua atau bahkan keempat sumber trafik di atas bersamaan dan semuanya bisa berjalan sukses.

Tapi balik lagi, jika ada yang bisa seperti itu, berarti mungkin memang disitu passionnya. Passionnya bukan SEO, blogging, atau advertising, tapi berbisnis.

Bagi pebisnis yang orientasi utamanya adalah keuntungan, tentunya tidak masalah menjalankan keempat-empatnya sekaligus selama resource dan SDM-nya tersedia.

Tapi jika Anda mengikuti pendekatan seperti ini tanpa resource dan SDM yang mencukupi, maka Anda spread yourself too thin.

Blogging & bisnis online tidak melulu masalah teknis; Produktivitas & time management sangatlah penting!

Delapan tahun menjadi full time blogger (tahun 2012 saya baru berani bekerja full online), saya makin memahami pentingnya pengelolaan waktu agar tetap produktif dan seimbang antara aktivitas online dan offline.

Dalam bekerja online, tidak ada yang mengatur saya kapan waktunya mulai bekerja dan kapan waktunya selesai bekerja. Tidak ada yang mengatur saya harus kerja pagi, siang atau malam, dan tidak ada yang mengatur berapa lama saya harus bekerja.

Hal ini tentunya impian mayoritas orang, dimana kita bebas menentukan kapan harus kerja dan kapan harus santai. Namun ini juga bisa menjadi bumerang jika kita lengah dan tidak menerapkan time management yang tepat.

Perut membuncit karena kebanyakan duduk, badan cepat capek karena kurang olahraga, mata gampang lelah karena terlalu sering menatap monitor, dan bisnis stuck ditempat karena terlalu nyaman dengan comfort zone, adalah beberapa keluhan yang pernah (dan tengah) saya alami.

Jika Anda ingin fokus terjun di bisnis online, Anda harus membekali diri dengan ilmu time management agar tidak terjebak dengan hal-hal negatif seperti di atas.

Karena saya seorang introvert yang suka belajar dari membaca, yang saya lakukan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan membaca literatur-literatur dari mereka yang ahli di bidang ini.

Beberapa rujukan yang sering saya gunakan untuk meningkatkan produktivitas, membantu saya lebih baik dalam pengelolaan waktu, serta mengangkat moral saya ketika semangat bekerja online menurun dapat Anda baca di artikel Belajar Produktivitas dan Manajemen Waktu dari 4 Internet Marketer Kelas Dunia.

Ingin cepat mencapai goal? Anda harus siap berkorban!

Quote dari pelatih Real Madrid Zinedine Zidane baru-baru ini :

Without suffering you cannot achieve anything.

Saya sudah pernah mencapai target-target saya yang dulu dari pengorbanan-pengorbanan yang sudah saya lakukan. Dan saya ingin terus melakukannya degan target-target yang baru.

Jika Anda ingin cepat sampai ke goal yang Anda inginkan, Anda harus siap berkorban, baik dari segi materi, waktu, hingga kesenangan.

Contoh beberapa pengorbanan-pengorbanan kecil yang saya lakukan untuk lebih cepat mencapai target saya di bisnis online :

  • Membatasi waktu online di sosial media (terutama yang tidak berhubungan dengan pekerjaan)
  • Membatasi waktu bermain game (selama 4 tahun, hanya ada 1 game di ponsel yang benar-benar saya mainkan)
  • Membatasi waktu menonton tv (saya hampir tidak pernah lagi menonton acara televisi kecuali sepakbola, itupun kalau tim favorit saya Manchester United yang bertanding)
  • Menyisihkan waktu untuk membaca tiap hari

Jadi, jangan kecewa trafik gak naik-naik, jika Anda masih lebih rajin update status di facebook daripada posting di blog.

Jangan kecewa earning belum beranjak dari satu digit per hari, jika Anda masih malas belajar, tidak berani trial error sendiri, enggan membaca tutorial panjang, tidak mau mengorbankan pleasure time, tidak mau meluangkan waktu membaca buku, dan tidak mau action tiap hari.

Mengutip quote pelatih fitness terkenal Dan John :

Sorry, you just are not good enough to be disappointed.

Jangan membandingkan pencapaian kita (earning, trafik, dsb) dengan orang lain

Pencapaian orang lain bisa jadi penyemangat, tapi juga bisa membuat kita jadi down jika salah menyikapinya.

Target trafik 1k/day dari blog yang kamu posting manual dan rutin tiap hari sudah tercapai? Oh lihat, ada yang share dapat trafik 10k/day hanya dengan utak atik script di website!

Target earning dua digit per hari dari Adsense akhirnya tercapai setelah berbulan-bulan posting dan optimasi? Oh lihat, ada yang bagi-bagi screenshot puluhan juta omset perhari hanya dari ngiklan di facebook!

Selalu membanding-bandingkan pencapaian kita dengan orang lain, terutama mereka yang pencapaiannya lebih baik, bisa membuat kita jadi kecil hati.

Ini tidak bagus, terutama jika kita sudah bekerja keras pada project yang kita yakini punya potensi besar.

Jika tak hati-hati, kebiasaan ini bisa membuat kita down, tidak fokus pada project sendiri, yang akhirnya bisa berujung pada mandeg-nya project yang tengah kita kerjakan.

Tidak semua yang kita lihat seindah kelihatannya. Mereka yang sudah sukses, juga punya cerita sendiri dibaliknya. Kita hanya melihat satu sisi, tidak melihat sisi lainnya. Sisi dimana ketika mereka masih struggling, gagal dalam trial error, merugi dalam beriklan, website deindeks, dan sebagainya.

Jadi, daripada membandingkan dengan orang lain, lebih baik bandingkan pencapaian kita dengan diri sendiri. Bandingkan pencapaian hari ini dengan hari kemaren, pencapaian bulan ini dengan bulan kemaren, dan pencapaian tahun ini dengan tahun kemaren.

Jika pencapaian kita sekarang lebih baik daripada sebelumnya, berarti kita sudah berada di track yang tepat. Sebaliknya jika lebih buruk, berarti kita harus menganalisa dimana letak kesalahannya, kemudian bekerja lebih keras, lebih konsisten, dan lebih tekun lagi.

Menurut saya, ini adalah pendekatan yang lebih baik, daripada membanding-bandingkan dengan orang lain yang bisa jadi tidak relevan karena berbeda privilege, beda background, beda sumber income, beda besarnya modal yang dipakai, beda SDM, beda jalur trafik yang dipilih, beda orientasi (long term/short term), dan sebagainya.

Sisihkan sebagian income untuk memperbesar bisnis

Kita tidak boleh terlena jika mendapat kesuksesan-kesuksean kecil seperti earning adsense yang mendadak naik, orderan yang tiba-tiba membanjir, dan sebagainya.

Selalu sisihkan sebagian penghasilan untuk memperbesar bisnis yang sudah berjalan, agar bisa lebih maksimal dan bisa menghasilkan lebih banyak lagi. Bisnis tidak selamanya diatas, trafik dan earning bisa setiap saat turun, orderan bisa setiap saat sepi, klien bisa setiap saat datang dan pergi.

Dengan menyisihkan income untuk memperbesar bisnis, entah itu blog, olshop, jasa, ataupun yang lainnya, kita lebih siap jika sewaktu-waktu hal buruk yang tidak diinginkan terjadi.

Penyakit para newbie seperti saya dulu jika tiba-tiba dapat ‘rejeki nomplok’ adalah, hasrat untuk membeli barang-barang baru yang mahal, untuk menunjukkan eksistensi dan keberhasilan mereka dari berbisnis online.

Menyisihkan penghasilan untuk kesenangan/entertainment tidak masalah jika dalam masih taraf sewajarnya, apalagi jika disikapi hanya sebagai reward atas kerja keras kita.

Nasehat blogging sejuta umat: Jangan menaruh telur dalam satu keranjang

Dunia bisnis online cukup keras. Website deindeks, akun di banned, adalah hal yang sudah sering kita dengar dan mungkin kita alami sendiri.

Menggantungkan seluruh income pada satu jenis monetize sangatlah riskan, tidak peduli itu bersifat short-term atau long-term.

Menurut saya, menaruh telur dalam satu keranjang hanya cocok jika Anda baru mulai. Jika sudah mampu untuk melebarkan sayap, jangan malas untuk mencari peluang baru yang potensial sebagai backup jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada sumber income utama.

Berikut beberapa metode untuk me-monetize blog/webiste yang sudah eksis cukup lama dan terbukti potensial :

  • PPC
  • Affiliate Marketing
  • Toko Online
  • Jasa/Service (penulis konten, backlink, seo, pembuatan website, dll)
  • Iklan Mandiri di Blog (advertorial posts, sponsored/guest posts, banner, dll)
  • Ebook/Course
  • dll

Dua atau tiga sumber monetize menurut saya sudah cukup aman, diatas itu Anda bisa jadi malah keteteran kalau tidak pintar-pintar mengelola waktu dan SDM. Seperti pelajaran penting sebelumnya, don’t spread yourself too thin.

Tidak perlu menunggu sukses untuk berbagi

Saat saya menulis ini, saya belum merasa sukses, malah saya masih merasa jauh dari itu. Namun hal itu tidak boleh menghalangi saya untuk berbagi ilmu, pengalaman, atau apapun itu yang menurut saya bisa berguna bagi orang lain.

Banyak teman blogger atau imer yang mungkin tidak pede untuk berbagi ilmu dan pengalaman karena merasa belum punya earning tinggi, atau belum punya sesuatu untuk dibanggakan. Menurut saya, asal yang kita tulis bisa memberikan value ke pembaca dan bisa membuat mereka jadi lebih baik, income kita tidak lagi relevan.

Artikel ini misalnya, mungkin tidak terlalu berguna bagi mereka yang terjun ke bisnis online di masa yang sama dengan saya, atau malah lebih duluan. Tapi saya yakin artikel ini bisa berguna bagi mereka yang baru mulai, yang masih struggling to make money online.

Pengalaman-pengalaman yang saya tulis di sini, bisa jadi dapat membantu mereka untuk lebih cepat menemukan ‘jalannya’.

Dari semua orang yang membaca artikel ini, jika ada 1% saja yang dapat mengambil manfaat dari tulisan ini, berarti saya sudah membantu 1 orang tiap tulisan ini dibaca 100 kali. Saya sudah membantu 10 orang jika tulisan ini dibaca 1000 kali, dan seterusnya.

Jangan terlena dengan zona nyaman (comfort zone). Stay hungry. Stay foolish.

Pelajaran penting terakhir, jangan lengah dan terlena dengan comfort zone alias zona nyaman. Hal ini sangat berbahaya karena membuat kita jadi malas dan enggan untuk belajar dan bekerja keras lagi.

Zona nyaman biasanya lebih sering menghinggapi mereka yang sudah sempat mencicipi keberhasilan, sudah hidup berkecukupan, dan sudah mencapai target/goal/tujuan. Jadi tidak ada bara api dalam jiwa untuk bekerja keras seperti dulu lagi.

Quote dari filsuf terkenal Ralph Waldo Emerson :

It’s the not the Destination, It’s the journey.

Senada dengan quote populer :

Success Is A Journey, Not A Destination

Kenapa proses (dalam hal ini journey) lebih penting daripada goal/target/tujuan (destination)? Salah satu contoh paling bagus saya temukan pada seorang pemanjat tebing.

Bagi mereka, semua tantangan dalam perjalanan menuju puncak tebing adalah yang paling utama. Dan ketika selesai dengan semua itu, di atas tebing mereka akan segera berpikir, “Tebing apa lagi yang ingin saya panjat?”

Karena saat dia memanjat itulah, dia merasa hidup. Disitulah letak sensasinya.

Quote dari Steve Jobs :

Stay hungry. Stay foolish.

Quote ini saya pakai sebagai pedoman agar bisa tetap semangat belajar dan bekerja keras. Selain itu, juga sebagai pengingat agar saya belajar lebih rendah hati dan menghargai orang lain.

Ada masa dimana dulu saya merasa sudah paling ahli dalam hal tertentu, dan cenderung meremehkan pendapat orang lain. Hal-hal seperti ini pelan-pelan mulai saya coba kikis, karena tidak ada keuntungan apapun yang saya dapat dan malah merusak hubungan saya dengan orang lain.

Diatas langit masih ada langit, dan internet berubah lebih cepat dari apa yang dapat kita pelajari. Semakin saya belajar dan menggali lebih dalam, semakin saya sadar bahwa saya sebenarnya belum tahu apa-apa.

Posting Komentar untuk "15 Pelajaran Penting yang Saya Peroleh dari 11 Tahun Ngeblog & Berbisnis Online"